Monday, April 1, 2019

Isra Mi’raj dalam timbangan Sains

Isra Mi’raj dalam timbangan Sains
Oleh : La Ode Yusran

Di Suatu pagi, Rasulullah SAW duduk di depan Ka’bah sembari merenungi kejadian “Spektakuler” yang dialaminya semalam. Ya, kejadian Isra mi’raj yang menurut Al-Allamah al-Manshurfuri terjadi pada malam 27 Rajab tahun 10 Kenabian. Rasulullah SAW Isra dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsha (Palestina) kemudian Mi’raj ke Sidratul Muntaha bertemu Allah SWT dan mendapatkan wahyu Sholat Lima Waktu. “Spektakulernya”, itu terjadi  hanya dalam waktu Semalam.
              
Di tengah perenungan Rasulullah SAW, lewatlah “Fir’aunnya umat” sembari bertanya ke Rasulullah SAW. Siapa lagi kalau bukan si Abu Jahal alias Abu Hakam. Kemudian Rasulullah SAW bercerita semua yang dialami selama kejadian tersebut kepada Abu Jahal. Singkat cerita, berkumpulah masyarakat Makkah. Rasulullah SAW dan Abu Jahal naik ke sebuah bukit kemudian bercerita tentang peristiwa “spektakuler” tersebut. Tentu Abu Jahal berniat mempermalukan Rasulullah SAW. Setelah bercerita, masyarakat Makkah yang awalnya kafir makin Kafir. Bahkan sebagian orang berimanpun mulai bimbang. Sederhanya, Saya membayangkan ada seorang yang bercerita, semalam saya didatangi oleh malaikat Jibril dan kendaraan mirip kuda bersayap (buraq) kemudian mereka membawa saya ke palestina dan naik ke langit bertemu Allah SWT kemudian kembali ke Makkah hanya dalam waktu semalam (Jika menggunakan onta memakan waktu 1 sampai 2 bulan)

Tentu Peristiwa ini menimbulkan “Pro dan Kontra”. Bagi kita umat islam wajib meyakini kejadian tersebut. Bahwa Peristiwa Isra Mi’raj benar-benar terjadi. Lantas bagaimana Ilmu pengetahuan atau Sains menjawab peristiwa tersebut ?. Sekali lagi kawan, perbaiki posisi dudukmu dan simaklah penjelasan saya berikut !.

Jika menggunakan kaca mata Sains, peristiwa tersebut bisa saja terjadi. Sebelum saya membahas secara ilmiah, simaklah kejadian spektakuler yang dialami seekor semut berikut !
Si semut ini bisa melakukan perjalanan dari Sulawesi ke Jakarta dalam waktu tiga jam. Hahahaha, gimana ceritanya ?. Sebut saja Zainuddin Ngaciro, hari ini Si Ngaciro ingin bepergian dari Sulawesi ke Jakarta. Ketika sedang berkemas, ada seekor semut masuk ke dalam tas si ngaciro. Singkat cerita, tibalah si ngaciro di Jakarta dan si semut tadi masih ada di dalam tas. Akhirnya si semut tadi bisa melakukan perjalanan dari Sulawesi ke Jakarta hanya dalam waktu tiga jam, Spektakuler bukan.

Peristiwa Isra Mi’raj mungkin seperti itu. Malaikat diciptakan dari cahaya dan kecepatan cahaya adalah 3 x 10^8 m/s. Artinya, dalam satu detik jarak yang ditempuh adalah 300.000.000 meter. Jika buraq berjalan bersama Malaikat Jibril, tentu buraq juga bergerak dengan kecepatan cahaya seperti di atas. Maka menjadi logis jika perjalanan Rasulullah SAW bersama mereka bisa ditempuh dalam waktu singkat.
Wallahua’lam


No comments:

Post a Comment